Sejarah Pramuka

 

SEJARAH GERAKAN PRAMUKA

I. JAMAN PENJAJAHAN BELANDA

Boden Powel dengan bukunya tentang Pendidikan Kepanduan yang lebih dikenal yaitu, “Scouting for Boys”.Di Negara Eropah hususnya di Negara Belanda dikenal dengan nama Padvinder.

Kepanduan ini oleh Belanda diterapkan pula di Negara jajahannya termasuk Indonesia. Pada tahun 1912 yang pada waktu bernama Nederland Oost Indie, mereka mendirikan Nederland Padvinder Vereneging yang dipimpin oleh Tuan P.J. Smyth. Dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1914 didirikannya Nederland Indie Padvinder Vereneging (NIPV). Anggotanya bukan hanya anak-anak Belanda tetapi juga putra-putri bangsawan pribumi.

Organisasi ini dipimpin oleh Tuan Raneef. Pada akhirnya pemerintah colonial Belanda memberikan keleluasaan pada organisasi sehingga pada tahun 1916 Sri Mangkubuwono VII raja dari Keraton Mangkunegoro Surakarta mendrikan Java Padvinder Organisasi yang disingkat JPO. Setelah itu berturut-turut berdiri organisasi kepanduan yang didirikan oleh tokoh-tokoh bangsa seperti ANSHOR, HW, SIAP, KBI dan lain-lain.

Pada tahun 1928 istilah Padvinder dilarang dipergunakan oleh orang pribumi, hanya orang-orang Belanda saja yang diperbolehkan oleh Pemerintah Belanda. Oleh karena itu seorang tokoh pergerakan yaitu KH. Agus Salim membuat istilah PANDU. Jadi pandu inilah yang diperuntukkan bagi masyarakat pribumi sedangkan Padvinder hanya untuk orang-orang belanda saja. Karena jasa inilah maka KH. Agus Salim disebut sebagai Bapak Pandu Indonesia.

 

II. JAMAN JEPANG

Pada saat penjajahan Jepang Gerakan Pramuka dilarang oleh pemerintah Jepang karena hal ini akan dapat membahayakan keberadaan Jepang di Indonesia agar tidak terjadi gejolak yang membahayakan maka kemudian kegiatan kepanduan dialihkan menjadi kegiatan Seinendan dan Keibodan.

 

III. JAMAN KEMERDEKAAN

Pada bulan Desember 1945 di Surakarta didirikan pandu Rakyat Indonesia sebagai upaya untuk mempersatukan dan merupakan satu-satunya pandu di Indonesia. Upaya ini hanya berlangsung sekitar 5 tahun. Pada tahun 1950 pandu-pandu bangkit kembali seperti pada saat zaman penjajahan Belanda. Bahkan menjelang tahun 1959 hampir ada 100 macam organisasi kepanduan di Indonesia , hal ini dapat mengakibatkan hancurnya persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: