SATU JIWA SATU POHON

Kota Surabaya saat ini telah mengalami kerusakan yang sangat parah, hal ini ditandai dengan kualitas lingkungan yang tidak sehat, seperti: polusi udara, sungai kotor, banjir, sampah berbau, nyamuk dimana-mana, suhu udara tinggi, dan lain-lain. Kualitas lingkungan perlu ditingkatkan agar Surabaya menjadi kota yang nyaman dan sehat. Oleh karena itu upaya restrukturisasi dan penataan kota menjadi kebutuhan pokok,  mendesak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi sebagai usaha memperbaiki kerusakan lingkungan.
Kesadaran Pemkot Surabaya mengenai kerusakan lingkungan di Surabaya saat ini ditunjukkan dengan melakukan upaya-upaya membenahi tata ruang kota. Salah satu usaha yang dilakukan adalah melaksanakan program satu jiwa satu pohon. Program ini diinstruksikan oleh Wali Kota Surabaya nomor 11 tahun 2005 dan di canangkan oleh menteri Lingkungan hidup dengan bertujuan mewujudkan lingkungan Surabaya yang Asri, sejuk dan nyaman. Sasaran program satu jiwa satu pohon adalah diperuntukkan bagi jiwa yang dilahirkan dan setiap jiwa yang pindah masuk menjadi penduduk Surabaya wajib menanam satu pohon.

Program satu jiwa satu pohon diharapkan dapat mencapai target luas ideal RTH yaitu 32.637,75 ha, sedangkan saat ini luas RTH yang sudah ditanami pohon baru mencapai 260,43 ha. Apabila luas ideal RTH terpenuhi, maka akan terjadi keseimbangan antara tingkat polusi udara dengan kebutuhan udara bersih.

Sesuai dengan data yang dikeluarkan ISPU dengan melakukan Analisis Dampak Lingkungan bahwa kualitas udara Surabaya periode Januari – September 2005 udara dalam kondisi baik hanya selama 36 hari, sedangkan selebihnya kita menghirup udara dengan kualitas sedang bahkan kotor. Jadi, setiap hari  kita lebih banyak menghirup udara yang tercemar daripada menghirup udara bersih.

Kondisi yang seperti ini menuntut kesadaran kita bersama untuk sadar dan mau melaksanakan dengan sepenuh hati mengeliminir polusi udara dengan mengadakan penanaman tanaman dan penghijauan kota termasuk mendukung dan mensukseskan program satu jiwa satu pohon yang di instruksikan wali kota tersebut.

Kesadaran warga akan pentingnya penghijauan dan keasrian kota perlu dibangkitkan dan dirangsang agar warga mempunyai sense yang tinggi terhadap lingkungan. Sebab selama ini warga Surabaya hanya mempercayakan penghijauan kepada pemerintah kota dan LSM yang peduli lingkungan. Sedangkan Pemerintah kota nampaknya kewalahan sehingga tidak mampu mengatasi panas dan pengap serta mengeliminir polusi udara di kota Surabaya.

Sebenarnya penghijauan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah kota dan warga. Tanggung jawab ini tidak dapat hanya dibebankan kepada salah satu pihak saja, namun perlu dukungan dari seluruh lapisan masyarakat kota. Oleh karena itu program satu jiwa satu pohon perlu mendapatkan perhatian yang tinggi, sebagai satuan sistem baik dari pemerintah maupun warga kota.

Secara teknis administratif, pelaksanaan program satu jiwa satu pohon ini di bawah wewenang Dinas Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. Dengan mekanisme bahwa setiap jiwa yang baru lahir yang mengajukan akte kelahiran dan jiwa yang mengajukan Surat Persetujuan Menjadi Penduduk (SPMP), harus melengkapi dengan surat pernyataan kesanggupan menyediakan dan menanam satu pohon dengan diketahui dan ditanda tangani lurah setempat.

Areal yang digunakan dalam program satu jiwa satu pohon sebagaimana yang telah ditetapkan Pemkot adalah di sekitar rumah penanam atau areal yang dipilih sendiri oleh jiwa yang wajib tanam serta areal yang telah disediakan oleh pemerintah kota. Areal yang disediakan ini sebaiknya memenuhi kriteria yang mendukung dan tidak berbenturan dengan tata ruang kota, pengamanan bantaran sungai, tepi jalan yang tidak ada pohon dan yang penting adalah mampu menambah keindahan kota.

Keuntungan dan Kelemahan
Keuntungan yang dapat diperoleh dari program ini diantaranya adalah Pertama, bertambahnya jumlah pohon yang ada di Surabaya akan menjernihkan udara yang tercemar oleh polusi asap kendaraan dan pabrik, serta mampu mengimbangi suhu kota Surabaya yang cenderung naik. Karena produksi oksigen yang dihasilkan pepohanan akan menekan gas beracun yang memenuhi udara kota.

Kedua dengan bertambahnya pohon dapat menutupi areal RTH yang belum ditanami pohon, sebab kebutuhan RTH ideal untuk ditanami pohon di seluruh kota Surabaya masih diperkirakan kurang seluas 32.377,32 ha, sehingga saat ini belum ada keseimbangan antara tingkat pencemaran dan persediaan udara bersih.

Ketiga  terciptanya hutan kota. Hutan kota ini perlu karena merupakan kebutuhan yang mendesak menjadi penyeimbang diantara menjamurnya pembangunan gedung yang menghasilkan efek rumah kaca. Hutan kota ini juga dapat dimanfaatkan sebagai taman rekreasi dan ruang publik sebagai tempat relasi sosial untuk mendapat hiburan, kesejukan dan ketenangan sekaligus sebagai tempat tinggal burung-burung untuk beregenerasi.

Keempat menumbuhkan kesadaran warga Surabaya menjaga lingkungan agar tetap sehat. Kesadaran ini dimulai dengan mencintai tanaman atau pohon sebagai ruh kota yang berguna bagi kesehatan. Kesadaran ini harus dirangsang karena merupakan syarat pokok bagi terciptanya Surabaya yang bersih dan sehat. Tanpa kesadaran, warga akan berbuat sembrono dan seenaknya sendiri tanpa menghiraukan aspek lingkungan.

Kelima, mempercantik wajah kota yang kering dan gersang. Adanya pepohanan yang menghiasi kota baik di sekitar jalan raya atau ruang publik lain akan menambah cantiknya wajah kota sehingga tidak terlihat garang dan panas, namun mampu memberikan pemandangan yang indah dan ramah lingkungan.

Ketika Surabaya telah menjadi ijo royo-royo maka berbagai manfaat dan keuntungan dapat kita nikmati bersama seperti setiap hari kita menghirup udara bersih, suhu udara sejuk, bertambahnya titik-titik penyerapan air hujan yang dapat mengurangi terjadinya banjir, kicauan burung yang merdu dan lain-lain.

Program satu jiwa satu pohon ini terkesan akan membuat semakin berbelit-belit dalam pelayanan administrasi pengurusan akte lahir dan pindah tempat tinggal, sehingga seakan-akan menambah kerumitan pengurusan surat-surat tersebut. Namun ini tidak akan mempengaruhi simbol Surabaya sebagai percontohan dalam pelayanan publik, justru sebaliknya momen satu jiwa satu pohon dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam peningkatan kualitas pelayanan masyarakat yang patut mendapat acungan jempol.

Kelemahan program ini adalah terletak pada lemahnya pengawasan yang dapat terjadi pada:  pertama, kesungguhan birokrasi yang bersangkutan yaitu Dinas Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil serta niat baik masyarakat kota. Kedua, pengawasan terhadap pohon yang di tanam, sebab satu jiwa satu pohon ini hanya  mewajibkan  menanam pohon saja dan tidak perawatannya.

Sebaliknya, pohon yang sudah ditanam harus mendapat perawatan yang baik dan kontinue sampai benar-benar tumbuh. Oleh karena itu, surat keterangan tersebut harus ada semacam garansi sampai pohon yang ditanam benar-benar hidup dan tumbuh. Apabila dalam jangka waktu tertentu mati, maka diwajibkan menanam kembali. Hal ini perlu karena apabila hanya menanam dan tidak merawatnya bisa jadi dalam seminggu pohon itu mati dan kering, terutama bila musim kemarau.

Pengawasan disini dipandang perlu, karena bila tanpa pengawasan program hanya akan menjadi rencana yang kosong makna dan bukan suatu aktualitas yang syarat dengan realitas. Pengawasan dapat dilakukan oleh lurah sebagai penggerak pertama, Dinas Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil sebagai pelaksana teknis administratif serta pengawasan dapat dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap program pemerintah dalam menjaga lingkungan.

Kelihatan mustahil memang, namun apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, maka hal itu dapat dilakukan. Ini diperlukan kerjasama yang terpadu dan saling mengisi diantara komponen yang terlibat diatas.

Dari kerjasama dan pengawasan itulah kita dapat melihat apakah program satu jiwa satu pohon ini berhasil atau hanya tinggal suatu program saja, yang menurut teori perlu didukung tapi miskin pelaksanaan. Akhirnya semua kembali kepada niat baik kita bersama untuk membangun Surabaya yang lebih nyaman atau kita tidak peduli dengan semua itu, dan ini merupakan suatu pilihan. Mudah-mudahan warga kota Surabaya memilih pilihan yang pertama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: