Pendidikan Pembebasan

Pendidikan pembebasan merupakan semangat dari pendidikan Islam. Untuk menjelaskan pendidikan pembebasan dalam kaitannya dengan pendidikan Islam, analisisnya dapat disajikan sebagaimana butir-butir dibawah ini :

  1. Islam sebenarnya telah mengandung misi pendidikan. Pendidikan dan Islam juga mempunyai arti membebaskan atau memerdekakan manusia dari belenggu kebodohan, kesempitan, kepicikan, kemiskinan dan lain-lain dalam membangun kemampuannya sebagai khalifah Allah.
  2. Islam dan pendidikan sama-sama menghendaki kehidupan yang demokratis. Islam adalah demokratis karena itu pendidikan seharusnya memberikan latihan dan kebiasaan hidup yang demokratis, serta dijauhkan dari unsur memaksakan kehendak, pembelengguan dan penindasan. Penindasan disini dapat berupa fisik dan penindasan psikologis.
  3. Islam dan pendidikan menghendaki terbantuknya pribadi-pribadi yang baik. Karena misi agama adalah misi kebaikan, sedangkan pendidikan adalah sarana untuk mengajarkan kebaikan.

Pendidikan kita saat ini belum menampakkan kenyamanan bagi peserta didik. Karena mereka masih merasakan bahwa pendidikan adalah sebagai penindasan terhadap dirinya. Pendidikan semacam ini dinamakan oleh Paulo Freire sebagai pendidikan yang Tidak Manusiawi, sehingga pendidikan belum bisa menjadi motivator yang positif bagi peserta didik untuk memperdalam dan meningkatkan keilmuannya. Mereka hanya termotivasi untuk memenuhi kepentingannya saat ini, karena perintah, karena tekanan sistem, karena  hadiah, dan bukan karena kesadaran tentang arti pentingnya pendidikan untuk meraih sesuatu yang bermakna bagi kehidupannya nanti. Padahal tuntutan kepuasan intektual, emosional dan spiritual sebagai dasar dari kebahagiaan telah ada sejak manusia ada di dunia ini.

Meminjam istilahnya Paulo Freire yang telah diterjemahkan oleh Agung Prihantoro bahwa pendidikan yang berlangsung saat ini termasuk juga di Indonesia merupakan pendidikan yang membelenggu, yaitu pendidikan yang dinamakan dengan sistem Preskriptif, dimana siswa sebagai objek yang diperintah dan guru sebagai subjek yang memerintah. Oleh karena itu agar pendidikan menjadi bermakna, maka paradigma pendidikan harus diarahkan menjadi pendidikan yang dialogis, dan pendidikan yang memiliki nilai transformatif.

Pendidikan yang bermuatan dan bernilai transformatif akan menghasilkan umat dengan kinerja yang mandiri, tidak perlu kontrol, produktif, dapat mengendalikan diri dalam mengawali, menciptakan, melaksanakan dan mengakhiri serta ketuntasannya dalam pekerjaan.  Dimanapun berada, dalam kondisi dan situasi bagaimanapun ia tetap akan menjadi pribadi yang mandiri dan mantap karena selalu merasakan kebersamaannya dengan Sang Pencipta Allah SWT. sehingga kemandirian telah menjadi jati diri dan karakter yang selalu menyertai dalam segala aktifitas dan pekerjaannya sebagai kewajibannya yang harus diamalkan semaksimal mungkin.

Jadi pendidikan apapun bentuknya, termasuk pendidikan agama Islam harus memiliki nilai transformatif, agar pemberdayaan umat Islam tidak harus memerlukan energi sebagai pengawas dan pengontrol peserta didik. Karena pengawas dan pengontrol yang paling baik adalah diri sendiri yang merupakan menyatu dengan jiwa sebagai karakter dan kepribadian.

Hal ini merupakan pekerjaan berat, karena bangsa Indonesia yang berbudaya Jawa termasuk kita menurut Niels Murder, memiliki budaya harus dikontrol, dan ia tidak melakukan sesuatupun apabila tanpa kontrol orang lain. Budaya yang demikian apabila tidak dirubah, maka akan menjadi lambang kehancuran umat dalam menghadapi kehidupan yang global nanti.
Untuk pemberdayaan potensi umat, maka pendidikan transformatif harus menjadi bagian dalam pola pendidikan bentuk apapun, pendidikan di rumah, di sekolah, pendidikan di masyarakat termasuk pendidikan agama Islam, dan bukan pendidikan yang hanya menghasilkan pengetahuan hafalan.

Pembebasan belenggu pendidikan
Lawan dari pemndidikan yang membelenggu adalah pendidikan yang membebaskan. Pendidikan yang membelenggu di tandai oleh (1) preskriptif melalui pemberian perintah (reseptur), dan (2) transfer pengetahuan. Sedangkan pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang berlangsung dengan transaksi (1) dialogis, dan (2) transformasional, yakni proses pendidikan yang mempunyai makna dalam kehidupan. Pendidikan kita sampai saat ini jelas mengikuti pola pertama yang membelenggu tidak ada kebebasan didalamnya,  karena semua subjek pendidikan bersumber dari pendidik.

Pendidikan yang membebaskan memungkinkan peserta didik untuk melaksanakan suatu kegiatan yang membebaskan jiwanya dari keinginan dan ekpresi kejiwaannya. Padahal saat ini, kegiatan siswa hanya mendengarkan guru dan hanya dirangsang untuk bertanya terhadap hal-hal yang bagi mereka justru tidak merangsang. Ukuran pemahaman mereka hanya ditandai dengan adanya pertanyaan atau tidak. Apabila tidak ada yang bertanya, maka peserta didik diasumsikan sudah faham semua.

Pertanyaan tersebut merupakan rangsangan sebagai reseptor dan bukan kreatifitas, padahal sebenarnya pertanyaan peserta didik seharusnya sebagai kreatifitas dengan melihat kesenjangan yang ada. Sebagaimana kita tahu bahwa kreatifitas harus selalu dilatih agar bertambah kemampuannya. Apabila tidak dilatih kreatifitasnya, peserta didik akan sulit melihat persoalan, akan sulit menemukan kesenjangan sebagai pendorong adanya pertanyaan. Pendidikan yang membelenggu tidak akan menumbuhkan kreatifitas.

Belenggu pendidikan dapat bersumber dari beberapa faktor, diantaranya adalah pembelengguan yang berasal dari
1.    Sistem perundang-undangan
2.    Belenggu sentralisasi
3.    Belenggu manajemen dan supervisi pendidikan
4.    Pembelengguan dari kesalahan ukuran penilaian pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: