MEMBUNUH KARAKTER ANAK

Kecewa, marah, sedih, frustasi, ngambek, menggerutu dan lain sebagainya sikap emosi yang ditunjukkan oleh anak-anak ketika dihentikan kegiatan bermainnya.

Bermain adalah roh anak-anak. Menghentikan permainan mereka hampir sama dengan menghentikan sebagian kehidupannya. Ketika anak bermain kita harus memberinya ruang untuk mengekspresikan dirinya, yang penting kita harus menjaga dari hal-hal yang membahayakan anak selama bermain.

Membunuh kreatifitas anak memang tidak termasuk pidana, namun lebih berat lagi akibatnya, karena yang dibunuh adalah kepercayaan diri, semangat dan kebanggaannya, yang apabila dikembangkan akan menjadi kepribadiannya.

Ketika Nina masih berumur 7 tahun, selama satu jam ia asyik menggoreskan pensil dan alat gambar sambil tidur-tiduran, ia bersemangat dan antusias untuk menyelesaikan gambar kucing manisnya. Setelah selesai, ia bangun dengan kegirangan dan nada kepuasan ditunjukkanlah gambar kucingnya kepada kakaknya. “Kak, Nina bikin gambar kucing manis, bagus deh.”

“Adi, kakaknya melirik seperti tidak berminat, sambil tertawa terbahak-bahak, mengatakan. “Ini gambar kucing apa cacing, wong gambar cacing kok dikatakan kucing, ha.. ha.. ha.. lho kok nggak ada ekornya, cacing buntung ya, ha..ha.. ha.. lucu sekali kamu.”

Disadari atau tidak, Adi telah membunuh kehidupan adiknya, yang mulanya ia senang menggambar dan menggunakan imajinasinya untuk diwujudkan dalam sebuah kreatifitas. Nina yang mulanya semangat dan antusias menggambar, sekarang ia tidak suka menggambar, bahkan membencinya. Ketika pelajaran menggambar di sekolah, ia tidak punya minat lagi karena takut dihakimi dan di cela. Akhirnya ia menggambar juga dengan rasa tertekan dan terpaksa.

Ketika di kamar mandi ia sedang menyanyikan lagu kesayangannya. Adi yang mendengar dari luar kamar mandi berceloteh, “Kamu itu nyanyi apa mengomel. Kok kayak suara truk gandengan gitu.” Nina akhirnya meresponnya dengan hanya diam dan tidak merespon dengan memerdukan suaranya. Sejak saat itu ia tidak pernah terdengar menyanyi lagi.

Peristiwa yang demikian adalah sering terjadi dilingkungan kita, keluarga kita, bahkan kita sendiri mengalaminya. Inilah yang dikatakan dengan membunuh kreatifitas anak yang sama saja dengan membunuh sebagian kehidupannya. Apabila peristiwa semacam ini tidak dapat di mengerti oleh guru di sekolahnya, Maka Nina akan bertambah kurang percaya diri, maka guru harus mempunyai cara-cara khusus untuk membangkitkan kepercayaan diri Nina tersebut, agar ia menemukan dirinya.

Peristiwa yang terjadi diatas hanyalah contoh, masih banyak tindakan-tindakan yang dapat membunuh kreatifitas, kebanggaan, semangat dan kepribadian anak, oleh karena itu anak perlu dibina dengan baik dan benar, terutama pertumbuhan kejiwaannya dan ini yang sering dilupakan oleh orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: