Mengenal Kusta

DIAGNOSIS DAN PENGOBATAN KUSTA
DEFINISI
Penyakit kusta adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae (M. Leprae). M. Leprae merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraseluler, menyerang saraf tepi (perifer), kulit dan organ lain seperti, mukosa saluran nafas bagian atas, hati, dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Masa membelah diri M. Leprae 12 – 21 hari dan masa tunasnya antara 40 hari – 40 tahun.

***


M. Leprae atau basil Hansen adalah kuman penyebab kusta yang ditemukan oleh GH. Armeur Hansen pada tahun 1873, basil ini bersifat tahan asam dan berbentuk batang hidup dalam sel, terutama pada jaringan yang bersuhu relatif dingin dan tidak dapat diukur dalam media buatan. Basil ini juga dapat menyebabkan infeksi sistemik pada binatang armadilo. Penyakit Kusta dikenal juga sebagai MORBUS HANSEN atau sering disebut dengan M.H.

KLASIFIKASI
WHO (1995) membagi  menjadi 2 yaitu tipe Pause Basiler (PB) atau kusta kering dan Multi Basiler (MB) atau kusta basah. Jika  kusta  terlambat diobati maka akan timbul  kerusakan  saraf dengan  akibat  berupa: mati rasa (tidak dapat  merasakan  panas, dingin,  nyeri),  kelumpuhan  otot, buta, dan  akibat  lain  yang disebabkan oleh proses immunologis yang disebut “reaksi kusta”.

EPIDEMIOLOGI
Walaupun  penyebab penyakit ini sudah diketahui pada  tahun  1873, namun cara  penularannya masih belum diketahui  secara pasti. Teori yang paling banyak  dianut  adalah penularan  melalui kulit (kontak langsung  yang lama dan erat), kuman mencapai permukaan kulit melalui folikel rambut, kelenjar keringat dan diduga juga melalui air susu ibu;  namun berbagai  penelitian  mutakhir mengarah pada droplet  infection yaitu penularan melalui selaput lendir pada saluran pernapasan (inhalasi).
Mycobacterium  leprae tidak dapat bergerak sendiri (karena  tidak mempunyai  alat  gerak) dan tidak menghasilkan racun  yang  dapat merusak  kulit,  sedangkan ukuran fisiknya lebih  besar  daripada pori-pori  kulit.  Oleh  karena itu,  Mycobacterium  leprae  yang karena  sesuatu  hal dapat menempel pada kulit kita,  tidak  akan dapat menembus kulit kalau tidak ada luka pada kulit kita..
Timbulnya penyakit kusta pada seseorang tidak mudah sehingga tidak perlu ditakuti. Karena bergantung pada sumber penularan, kuman kusta, daya tahan tubuh, sosial ekonomi dan iklim. Sumber penularan adalah kuman kusta utuh (solid) yang berasal dari pasien kusta tipe MB yang belum diobati atau tidak teratur berobat.
Bila seseorang terinfeksi M. Leprae, sebagian besar 95 % akan sembuh sendiri dan 5 % akan menjadi indeterminate. Dari 5 % indeterminate, 30 % bermanifestasi klinis menjadi determinate dan 70 % sembuh.
Kalau Mycobacterium leprae berhasil masuk kedalam tubuh, maka ada 3 kemungkinan:
1.    Sistim pertahanan tubuh berfungsi normal. Mycobacterium  leprae  segera dimusnahkan oleh  sel-sel  darah putih, sehingga tidak timbul gejala apa-apa.
2.    Sistim pertahanan tubuh agak lemah. Mycobacterium  leprae dapat berkembang biak,  namun  jumlahnya terbatas;   karena   sel-sel  darah  putih   dapat   mematikan Mycobacterium leprae (tetapi tidak sampai musnah  seluruhnya). Akibatnya: timbul penyakit kusta kering.
3.    Sistim pertahanan tubuh praktis lumpuh. Disini  Mycobacterium  leprae  dapat  berkembang  biak  dengan leluasa, sehingga timbul penyakit kusta basah.
Kusta dapat menyerang semua usia, anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa. Frekuensi tertinggi pada anak umur 10-12 tahun, sedang pada orang dewasa umur 25-35 tahun.

DIAGNOSIS KLINIS
Tanda  yang paling dini dari penyakit kusta adalah adanya  bercak berwarna   putih  (pada  orang  kulit  putih,  justeru   warnanya kemerahan  seperti  tembaga), mirip dengan  penyakit  panu  namun tidak gatal. Pada perkembangan selanjutnya, bercak tersebut dapat melebar  dan dapat bertambah banyak, serta mati rasa. Keadaan ini dikenal sebagai kusta kering. Penyakit ini dapat berkembang menjadi benjol-benjol di kulit  yang berwarna kemerahan, yang pada beberapa penderita berair dan dapat timbul luka; sehingga dikenal sebagai kusta basah.

Pada penyakit kusta dikenal adanya tanda-tanda utama
a.    Lesi kulit yang karakteristik makula hipopigmentasi atau berwarna kemerahan bisa mendatar atau meninggi yang anesthesia (mati rasa).
b.    Penebalan saraf tepi pada tempat-tempat predileksi yang dapat disertai rasa nyeri dan oleh gangguan fungsi saraf yang terkena (hilang rasa atau kelemahan otot). Pembesaran saraf saja tanpa disertai tanda-tanda lainnya bukan merupakan tanda yang sesuai untuk penyakit kusta.
c.    Adanya basil tahan asam pada sediaan hapus (kerokan jaringan) kulit (pemeriksaan laboratorium)
Diagnosa kusta dapat ditegakkan bila terdapat minimal 2 dari 3 tanda utama atau bila ada BTA dalam kerokan jaringan kulit.

PENGOBATAN.

Sejak tahun 1941, digunakan DDS (Diethyl-Diphenyl-Sulphone)  yang dikenal juga sebagai Dapson dengan lama pengobatan seumur hidup. Sejak  1982 WHO memperkenalkan MDT (multiple drug therapy),  yang di Indonesia dimulai sejak 1983 dengan menggunakan Rifampicin dan DDS  (untuk kusta kering, dengan lama pengobatan 6 bulan).
Untuk kusta basah, masih ditambah dengan Lamprene dengan lama  pengobatan  2  tahun. Panduan terbaru dari WHO (1998)  menyatakan  bahwa untuk pengobatan kusta basah, cukup 1 tahun saja. Dengan pengobatan MDT, Mycobacterium leprae akan mati dalam waktu 2 X 24 jam. Masa pengobatan yang cukup lama  (6  bulan atau 1 tahun) dimaksudkan untuk  mematikan  kuman yang  “bangun  dari tidurnya”.
Pada beberapa keadaan,  ada  Mycobacterium leprae yang “tidur” (istilah asingnya adalah  dormant), dimana metabolismenya praktis nol (mirip dengan binatang berdarah panas  yang tidur sepanjang musim dingin) sehingga  walaupun  ada obat yang mematikan, namun kuman tidak mengambilnya karena memang tidak  mengambil bahan makanan sama sekali sehingga tetap  hidup.
Diharapkan, selama masa pengobatan tersebut kuman-kuman terbangun sedikit demi sedikit sehingga pada saat masa pengobatan  selesai, seluruh kuman telah musnah. Kebijaksanaan  umum  yang berlaku pada saat  ini,  sesuai  dengan pedoman dari WHO adalah rawat jalan, artinya para penderita kusta yang  berobat  tidak  perlu dirawat di Rumah  Sakit  kecuali  ada keadaan-keadaan khusus yang memang memerlukan perawatan di  Rumah Sakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: