Refleksi Pendidikan Indonesia

Sistem, strategi dan konsep pendidikan telah mengalami proses perubahan yang panjang untuk menemukan konsep pendidikan yang up to date dan sesuai dengan perkembangan masyarakat yang selalu mencari bentuknya dan dinamis. Inovasi-inovasi dan pemikiran kreatif selalu digali oleh  para pakar, praktisi dan pemerhati pendidikan, namun selama ini belum ditemukan konsep pendidikan yang ideal dan aspiratif terhadap peserta didik dengan kebutuhan lingkungannya.

Berbagai konsep yang ditawarkan tidak terlepas dari kekurangan dan kelemahan meskipun tidak sedikit keunggulannya, semua itu  merupakan hasanah intelektual yang perlu dibanggakan dan dijadikan landasan pemikiran untuk menentukan arah kebijakan yang inovatif dimasa mendatang.
Inovasi-inovasi pendidikan baik mencakup kebijakan maupun metode pengajaran dalam interaksi belajar yang diterapkan dalam Pendidikan Nasional memang sudah baik dalam tataran konsep, namun belum menyentuh kepada tataran praktis dilapangan. Pengawasan dan monitoring belum optimal dilaksanakan akhirnya tidak ada perubahan dengan konsep lama. Kebijakan penggunaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, nampaknya belum siap dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang didalamnya terdapat guru-guru yang tidak proaktif.
Kondisi guru yang tidak kapabel dalam menerapkan KBK ini disebabkan oleh iklim pendidikan masa lalu yang telah berurat dan berakar sehingga menjadi karakter dan sifat pribadi guru yang akhirnya tidak siap untuk  menerapkan sistem baru, barangkali nanti KBK hanya menjadi slogan yang tinggal nama saja seperti penerapan CBSA sebelumnya, yang aktif bukan siswanya melainkan gurunya.
Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor juga lemah, sedangkan lembar supervisi serta penilaian prestasi kerja guru hanya sebagai formalitas belaka. Kepala sekolah jarang bahkan tidak pernah memberi motivasi dan arahan kepada guru untuk melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab akhirnya guru hanya santai saja pokoknya mengajar beres. Disamping itu guru berkecenderungan tidak berpikir kreatif dalam membuat inovasi dan variasi dalam proses pembelajaran.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memberi harapan yang besar bagi dunia pendidikan menuju pendidikan yang sempurna. Oleh karena itu perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan MBS ini agar tidak menyimpang dari konsep yang sebenarnya. Fungsi transparansi, pengelolaan dan partisipasi masyarakat harus selalu ditingkatkan dan dijalankan paling tidak sesuai dengan rencana disamping pemikiran baru yang lebih akomodatif dan inovatif.

Namun, ketika seminar dan sarasehan mengenai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan mengenai bagaimana cara guru berinteraksi dengan siswa, biasanya selalu ada pendapat dari guru – paling tidak berbicara dalam hati – “itukan dalam teori, kalau dilaksanakan pasti sulit” terutama bagaimana penguasaan kelas ketika menghadapi siswa-siswanya yang selalu membuat ulah negatif.
Teori mengatakan bahwa siswa tidak boleh dihukum, dimarahi, atau guru melakukan penyerangan fisik dan psikologis bagaimanapun rupanya dan sekecil apapun bentuknya. Namun, kadang guru kesulitan mempraktekkannya, karena siswa sudah tidak dapat lagi dihadapi dengan kelembutan dan kasih sayang. Sehingga guru dengan terpaksa melakukan kekerasan baik kekerasan fisik maupun psikologis.
Hal ini menimbulkan kenyataan yang paradoksal dalam dunia pendidikan. Sebagai guru, pasti akan mengalami perasaan bersalah ketika melakukan perbuatan-perbuatan yang dalam keyakinannya adalah salah, tetapi dihadapkan dengan kenyataan yang menuntut melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. Oleh karena itu, setiap hari guru selalu dihantui oleh rasa bersalah dan perasaan tidak enak ketika mengajar.
Dalam pendidikan, peran guru sangat penting bagi keberhasilan dan kesuksesan siswa dalam belajar. Sebab guru sebagai pembimbing siswa mempunyai pengaruh yang besar bagi terciptanya iklim pendidikan yang kondusif. Oleh karena itu guru harus selalu bertanggungjawab terhadap lingkungan belajar siswanya.
Tanggungjawab guru yang besar tersebut seyogyanya diimbangi dengan penghargaan yang tinggi bagi jasa-jasanya. Penghargaan itu mestinya tidak hanya berupa lagu Hymne guru saja, yang didalamnya disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Dan kenyataanya dilihat dari segi ekonomi guru juga sebagai pahlawan tanpa apa-apa.
Sudah semestinya, Pemerintah dan masyarakat sebagai stakeholders pendidikan memberikan penghargaan yang tinggi atas jasa guru sebagai pahlawan bangsa dengan meningkatkan taraf ekonomi dan penghidupan yang layak. Taraf ekonomi yang baik bagi guru sudah barang tentu akan berpengaruh bagi kinerja dan profesionalitas dalam melaksanakan tugas-tugasnya, yang semua itu akan berpengaruh positif bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: