Kampanye – KEBOHONGAN PUBLIK

Untuk menarik simpati, para calon pemimpin keluar masuk pelosok dan penjuru daerah. mereka datang ke ormas-ormas, pesantren, sekolah, panti asuhan, pasar, pengrajin dan UKM, petani, nelayan, peternak, korban bencana, pemulung bahkan lokalisasi WTS. Di sana mereka ikut berpartisipasi menyingsingkan lengan baju dalam semua aktifitas para sasaran kampanyenya.

*** Di Pesantren, mereka berceramah tentang dunia akhirat dengan sederetan Al Quran-hadits lalu kemudian mengajak memilih pemimpin yang beragama. Di sekolah mereka berbicara tentang pentingnya arti pendidikan, sekolah gratis, sarana yang lengkap lalu kemudian mengajak memilih pemimpin yang terdidik dan peduli dengan dunia pendidikan. Di panti asuhan, calon pemimpin berbicara tentang kemandirian dan semangat hidup serta sikap optimisme dalam menjalani kehidupan dan sedikit memberi sumbangan yang dipamerkan. Di pasar mereka berbicara tentang peran strategis Usaha kecil dan pasar tradisional sebagai penyokong kekuatan ekonomi nasional yang perlu diberdayakan, lalu kemudian mereka mengajak memilih pemimpin yang peduli terhadap ekonomi kerakyatan.

Di depan para pengrajin dan pelaku UKM, mereka berbicara tentang kemudahan pinjaman dan kredit lunak serta mewujudkan dan mengoptimalkan produk unggulan lalu kemudian mengajak memilih pemimpin yang merespon kebutuhan UKM. Di depan para nelayan mereka berbicara tentang peralatan yang memadai untuk meningkatkan hasil tangkapan serta peningkatan harga jual ikan di pasar nasional. Di depan petani dan peternak mereka berbicara tentang pupuk bersubsidi yang murah, pengendalian hama, peningkatan mutu irigasi yang baik, prioritas produk nasional, produktifitas yang meningkat.

Di depan para pemulung dan gelandangan mereka berbicara tentang peningkatan taraf hidup yang layak, kesejahteraan, rumah susun, peningkatan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan. Dan di depan para PSK mereka berbicara tentang penyakit kelamin dan saran untuk menggunakan pengaman ketika menservis pelanggannya.

Tak tanggung-tanggung para calon pemimpin (seakan-akan) membantu sasaran kampanyenya dengan terjun langsung mengerjakan seperti apa yang dilakukan oleh masyarakat yang menjadi sasaran kampanyenya. Mereka ikut menangkap ikan dengan menceburkan diri ke dalam kolam, berpanas ria dan bermain lumpur dengan para petani, menggendong ternak dengan para peternak, membatik dengan para pegrajin, semua itu dilakukan sebagai rasa (pura-pura) peduli terhadap pekerjaan masyarakat yang akan memilihnya. Tetapi untung mereka tidak ikut mencicipi tubuh PSK yang di kunjunginya.

Para calon pemimpin tersebut berupaya untuk menarik simpati dan kepercayaan calon pemilih agar dalam pemilihan nanti mereka memilihnya. Apakah yang dilakukan mereka hanyalah dalam bibir saja? Apakah mereka benar-benar mau memanen padi di sawah yang berlumpur, panas, gatal dan menggerahkan? Apakah mereka benar-benar mau merawat seekor kambing?

Ah! rasanya semua itu tidak mungkin. Barangkali itu hanyalah sebuah simbol bahwa mereka peduli kepada calon pemilinya dengan maksud untuk menunjukkan ……

Ataukah semua itu hanyalah kebohongan publik yang dibingkai dalam partisipasi dan simpati, padahal sebenarnya mereka berusaha untuk menutupi kelemahan dan
kekurangganya di mata masyarakat. Yang jelas calon pemimpin dalam setiap kampanyenya hanyalah ingin mengambil hati kita untuk dijadikan penggemarnya.

Untuk mencapai kursinya, mereka tak segan-segan menghabiskan isi koceknya dengan mengeluarkan milliaran Rupiah. Asalkan tujuannya tercapai, nilai sebesar itu tidak ada artinya. jangankan harta, bahkan jiwanya pun siap dipertaruhkan untuk memenuhi ambisi kekuasaannya.

Tak ragu-ragu dan tak malu-malu, mereka mengumbar janji-janji yang mungkin itu hanya kebohongon -MUDAH-MUDAHAN TIDAK- sebagai sarana untuk meyakinkan dan memanipulasi masyarakat. Sebab hanya dengan janji masyarakat kita sudah bahagia karena ada harapan.

Dengan janji saja seharusnya tidak cukup memuaskan hati kita. kita membutuhkan konsekuensi nyata dari apa yang kita harapkan, dan bukan isapan jempol yang kita dapatkan.

Janji-janji itu tidak akan dapat mengubah apapun, kecuali harapan kosong bagi orang yang mempercayainya, dan kenyataanya sampai sekarang janji-janji dalam kampanye hanyalah mimpi di tengah kesadaran yang sengaja kita tutupi dari kebenaran.

Janji-janji hanyalah bualan bagi orang yang mempunyai keinginan akan sesuatu dan ingin mencapai tujuan tertentu. Janji dijadikan sebagai alat transportasi menuju ambisinya dengan cara memanipulasi keindahan dengan menghidangkan harapan-harapan yang kosong namun penuh dengan kebohongan.

Tanpa janji-janji, mungkin kampanye tidak ramai dan semarak, namun apakah kita sebagai warga negara yang cerdas masih mau dan bisa dibohongi, itu semua tergantung dengan kepedulian kita terhadap nasib bangsa. Tetapi sampai saat ini, janji-janji dalam setiap kampanye masih merupakan bentuk kebohongan publik yang harus kita waspadai.

Oleh karena itu kita harus menolak dan tidak percaya begitu saja dengan janji-janji para calon pemimpin bangsa, jangan sampai mereka berhasil membohongi kita dengan berbagai aktifitas dan kunjungan-kunjungan mereka serta janji-janji manis yang digembar-gemborkan dalam kampanyenya.

Sebab kita tahu :”SELAMA INI KITA SERING MENDENGAR JANJI-JANJI, NAMUN TIDAK PERNAH MELIHAT KEMAKMURAN”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: