Manajeman Kelas

Pada tanggal 1 s/d 3 Desember 2008 yang lalu, saya mengikuti pelatihan MANAJEMEN KELAS di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Dalam pelatihan tersebut saya mendapatkan pengetahuan yang penting dalam menunjang profesi  saya sebagai pendidik. Pembahasan mengenai manajemen kelas tidak hanya berkisar pada bagaimana cara menata meja dan kursi serta ruangan saja, melainkan lebih dari itu yaitu bagaimana cara berinteraksi dengan peserta didik  di dalam kelas sehingga mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Suasana yang kondusif memungkinkan peserta didik  dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik, sehingga peserta didik  mampu menyerap pelajaran dengan sempurna. Asas dasar Manajemen kelas adalah meminimalisir keadaan yang menyebabkan terganggunya proses mengajar belajar di kelas.
Dalam menata ruangan perlu diperhatikan sebagai berikut :
1. Kelas dikelola dengan pola ”sesuai dengan keperluan”. Hal ini mengandung maksud, bahwa mendesain kelas disesuikan dengan keperluan, misalnya loker peserta didik , perpustakaan kelas, ruang baca, porto folio peserta didik , mading kelas atau tempat menyimpan barang-barang kelas harus di tata dengan rapi dan mudah dijangkau oleh peserta didik . Perlu diperhatikan pula keamanannya bagi peserta didik . Perlengkapan yang membahayakan peserta didik  harus ditaruh ditempat yang aman dan terlindungi.
2. Pencahayaan dan Kebisingan. Pencahayaan ruang kelas harus cukup serta ventilasi udara harus diperhatikan agar terjadi sirkulasi udara, sehingga kelas menjadi nyaman dan sehat. Kebisingan harus diminimalisir terutama kelas yang bersebelahan dengan kelas lain, jangan sampai suara-suara di kelas sebelah terdengar dari kelas yang lain.
3. Tata letak pengaturan kursi. Pengaturan kursi harus disesuikan dengan kebutuhan. Misalnya kelas sedang diskusi, maka pengaturan kursi harus sesuai dengan format diskusi. Oleh karena itu pemilihan kursi dan meja seharusnya mudah untuk dipindahkan oleh peserta didik  dan tidak mengganggu proses pengaturan ulang model susunan meja dan kursi. Jarak antara kursi satu dengan kursi untuk peserta didik  tidak ada aturan baku, hanya pada konsep psikologi sosial disinggung bahwa setiap manusia memiliki teritori atau wilayah pribadi. Beberapa penelitian yang dilakukan seperti Morgan (1970) ditemukan bahwa orang merasa aman jika wilayah sekitarnya memiliki jarak lingkar sekitar 0,5 s/d 1,00 m. Sedangkan jika lebih dari itu mereka akan merasa tersingkirkan dari lingkungan. Berdasarkan itu kita harus berhati-hati dalam menyusun kursi. Kita harus mengetahui susunan kursi itu untuk keperluan apa. Jika untuk kepentingan belajar, maka wilayah privacy harus diciptakan, sebab banyak diantara peserta didik  merasa tidak nyaman karena tidak memiliki wilayah privacy. Sebaliknya jika itu untuk diskusi, maka jarak antar kursi harus sedikit rapat guna memudahkan mereka membangun wilayah bersama. Oleh sebab itu tempat belajar ideal bagi peserta didik  ialah apabila tempat duduk mereka dapat dengan mudah dipindahkan sesuai kebutuhan.

Untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi proses mengajar belajar, maka kita sebagai pendidik harus mampu membuat skenario yang terstruktur agar apa yang kita rencanakan dapat diaplikasikan dengan sempurna. Oleh karena itu dalam pelatihan Manajemen kelas tersebut saya mempelajari bagaimana mengenal dan memahami karakter peserta didik  serta membiasakan karakter yang baik setiap hari agar karakter yang kita kembangkan dapat menjadi karakter atau kepribadian yang diamalkan peserta didik selama hidupnya, seperti karakter budaya antri, budaya bersih dan karakter-karakter yang lain.
Dalam pelatihan tersebut saya juga mempelajari tentang bagaimana cara mengatasi peserta didik yang sulit atau bermasalah, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.    Diingatkan bahwa perbuatan itu melanggar aturan kelas, hukum atau norma lain, bila siswa tidak mengerti, maka
2.    Disentuh Perasaannya, ketika melakukan perbuatan itu nyaman atau tidak, kalau tidak nyaman berarti itu suatu kesalahan, maka jangan dilakukan. Seandainya peserta didik belum memahami, maka dengan cara
3.    Ibarat diberitakan, peserta didik ditanya seandainya perbuatanmu itu diumumkan dimedia massa apakah kamu malu, nyaman atau senang. Bila peserta didik biasa aja, maka
4.    Disuruh membayangkan tokoh idola (yang baik), apakah tokoh idola kamu pernah melakukan perbuatan yang kamu lakukan?
Dengan melaksanakan langkah-langkah diatas insyaallah peserta didik akan mempelajari proses pembentukan karakter yang berasal dari diri sendiri karena dengan langkah-langkah diatas peserta didik yang sulit akan menjadi sadar tentang perbuatan yang telah dilakukan adalah salah.
Masih banyak lagi hasil dari pelatihan selama tiga hari tersebut, namun kiranya sampai disini yang dapat saya bagi kepada pembaca. Mudah-mudahan sedikit ini dapat berguna bagi kita semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: